[Post Format image 1094]Berjuang Menghadapi Thalasemia

 THALASEMIA

Sebutlah namanya Annisa, seorang gadis mungil yang masih berusia 2 tahun. Dia terlahir dalam keadaan diuji sakit, yaitu menderita thalasemia. Ketika dia baru dilahirkan, tak tampak kelainan apa-apa. Dia lahir dalam keadaan normal layaknya bayi-bayi yang lain. Namun setelah usianya menginjak 1 tahun, barulah kelihatan. Perkembangan tubuhnya  banyak hambatan, sering sakit-sakitan, mulai dari batuk, pilek, demam biasa yang tak kunjung berhenti. Dokter umum dan spesialis anak pun jadi langganan orang tua Annisa setiap pekannya. Namun setelah diteliti lebih lanjut, barulah diketahui bahwa Annisa kecil menderita penyakit kelainan darah yaitu thalasemia minor.

Thalasemia adalah kelainan darah, yang ditandai dengan kadar sel darah merah yang mudah rusak yaitu  3 sampai 4 kali lebih cepat disbanding sel darah normal. Oleh karena itu umurnya pun relatif lebih pendek dibanding dengan sel darah normal. Jika sel darah normal memiliki waktu120 hari dalam meregenerasi sel darahnya, maka bagi penderita thalasemia sel darah merahnya mengalami waktu yang lebih cepat yaitu sekitar 23 hari.

Sel darah merah yang rusak itu akan diuraikan menjadi zat besi didalam limpa. Karena kerusakan darah terjadi dengan cepat, maka kandungan zat besi dalam tubuh menumpuk dan bisa mengganggu fungsi kerja organ lain sehingga berujung kematian.

Gejala penyakit dari orang yang menderita thalasemia, menyerupai gejala pada orang yang menderita penyakit anemia, diantaranya :

  • wajah pucat
  • mengalami insomnia/ susah tidur
  • tubuh mengalami lemah, letih, lesu
  • kurang nafsu makan
  • tubuh mudah mengalami infeksi
  • jantung bekerja lebih cepat karena untuk memenuhi pembentukan hemoglobin
  • mengalami kerapuhan dan penipisan tulang. Hal ini disebabkan oleh sum-sum tulang yang berperan penting dalam menghasilkan hemoglobin tersebut
  • berwajah mongoloid
  • mengalami penyakit kuning
  • pertumbuhan tubuh terganggu dan perutnya membesar

Secara medis, penderita thalasemia selalu membutuhkan tranfusi darah yang sehat untuk bertahan hidup. Jika tidak mendapatkan tranfusi darah, akan terjadi akibat yang sangat fatal yang mengakibatkan kematian.

 

Begitu juga dengan Annisa kecil, rumah sakit, dokter, obat-obatan, dan  tranfusi darah menjadi aktifitas rutin yang harus dijalani setiap waktu untuk mempertahankan hidupnya. Tak sedikit waktu, tenaga dan tentu saja biaya yang harus dikeluarkan orang tuanya demi anak yang dicintainya. Bayangkan saja, sekitar 3  atau 4 tahun yang lalu, biaya untuk sekali tranfusi darah adalah Rp 200.000 di rumah sakit, dan Annisa membutuhkan 2 kali tranfusi darah dalam waktu sepekan. Berarti 8 kali pertemuan dalam setiap bulannya. Rp 200.000 dikali 8 kali pertemuan berarti sekitar Rp 1.600.000 hanya untuk tranfusi darah aja, belum resep obat-obatan yang harus ditebus setiap bulannya?? Hemm…itu adalah angka yang tidak kecil buat orang tua annisa yang hanya berpenghasilan biasa.

Namun pertolongan dan takdir Alloh datang buat Annisa dan orang tuanya. Atas pemberitahuan dari seorang teman, mereka dikenalkan dengan Thibbunnabawi, pengobatan cara nabi Muhammad SAW, yaitu dengan ruqyah, hijjamah/bekam dan herbal-herbal alami.

Pada mulanya Annisa hanya diterapi ruqyah, yaitu dengan perantara do’a dari Al Qur’an dan  hadits nabi Muhammad SAW, untuk meyakinkan bahwa yang mendatangkan sakit adalah Alloh, dan Alloh jualah yang menyembuhkan penyakit itu. Kemudian Annisa diterapi hijjamah atau bekam, yaitu dengan dikeluarkan darah kotornya. Pada awalnya Annisa hanya dibekam di 3 titik inti sunnah, yaitu di kahil/punuk dan dikedua bahunya. Dan alhamdulillah secara bertahap sekarang sudah sampai 9 titik inti sunnah rosul. Annisa kecil kadang menangis ketika dilakukan bekam, namun sambil diperdengarkan murottal al qur’an atau nasyid islami anak-anak, maka tangisnya akan terhenti, subhanalloh, anak kecil yang sholeheh.

Semenjak itupun orangtuanya menghentikan obat-obatan kimianya dan diganti dengan herbal alami, yaitu dengan diberikan madu murni dan jus kurma setiap harinya. Dan hasilnya luar biasa, setelah rutin dibekam dan meminum herbal, tubuh Annisa bisa bertahan lebih kuat, bahkan tranfusi darah yang biasa ia lakukan sepekan 2 kali, nyaris tak pernah dilakukan lagi Allohu Akbar… Dialah sebaik-baik yang memberikan kesehatan.

Sekarang usia Annisa menginjak 3 tahun, sedkit-sedikit daya tahan tubuhnyapun mulai membaik. Walaupun pertumbuhan tubuhnya tidak selayaknya anak kecil yang normal, namun Annisa mampu bertahan hidup, subhanallooh…Salam sehat buat Annisa kecil, semoga kedepan selalu ceria dan jadi anak yang sholehah yang sehat yang dicintai Alloh, Rosulnya kemudian jadi anak kebanggaan orangtuanya, aamiin…

 

 

Bandung

Ibnatu Muslim Asy Syathibi

 

 

 


Comments are closed.